Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perjalanan Berangkat Touring Vespa ke Pulau Bali

Bermula dari keinginan yang sudah sekian tahun harus tertunda tentang berlangsungnya Vespa World Day. Sebuah event motor vespa dengan label dunia yang berlangsung di Pulau Dewata Bali.

Bermula dari info akan diberlangsukannya event tersebut, membuat saya terpacu untuk kembali menghidupkan pajak kendaraan vespa yang sudah lama mati. Dan cerita tersebut juga sudah pernah saya tuliskan di blog ini juga. Silahkan jika mungkin ada yang penasaran, bisa langsung cari artikelnya dan selamat menikmati cerita.

Saya tinggal di salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, lebih tepatnya adalah di Kabupaten Sleman. Jarak rumah saya sampai ke pulau bali mungkin ratusan kilometer dan memakan waktu sekian jam perjalanan darat.

Sebelum memutuskan untuk berangkat sempat terbesit keraguan dalam hati saya,"apakah mau mencoba berangkat atau tidak".

Singkat cerita, satu minggu sebelum keberangkatan, saya sempat mengajak seorang teman, dan menawarinya untuk mau ikut atau tidak. Kalau mau ya syukur ada teman ngobrol di perjalanan. Tentunya, masalah konsumsi bahan bakar vespa lebih murah karena ditanggung dua orang hahahaha.

Ternyata dia mau dan ingin mencoba melakukan perjalanan yang lumayan jauh menemani saya berkelana dengan vespa. 

Tapi sejujurnya ada satu hal yang menganjal di pikiran saya waktu itu. Yaitu tentang jumlah hari cuti yang boleh teman saya ambil. Ternyata dia hanya mengambil cuti satu hari tepat di hari jumat, sedangkan hari sabtu dan minggu libur dan senin mulai berangkat kerja lagi.


Kalau naik pesawat dalam jangka waktu segitu bisa dibilang punya waktu yang banyak. Tapi kalau naik vespa? ya bisa dibanyangkan sendiri lah ya, seorang pemula dari Jogja ke Bali berangkat pulang naik vespa cuma punya waktu tiga hari saja.


Sempat pergi ke bengkel untuk membetulkan paku rotor magnet yang sudah minta ganti


Pasti kalian para penunggang vespa tahu betapa berisiknya mesin ketika paku rotor magnet kondisinya sudah tidak bagus lagi.

Dan itulah yang saya alami pada waktu itu.

Berhubung tidak ada alat dan belum begitu tahu caranya, saya pun membawa vespa ke bengkel dan langsung menyerahkannya untuk ditangani langsung ahlinya.

Dari sebelum dzuhur sampai larut malam tiba, vespa baru selesai diperbaiki, bukan lama proses memperbaikinya, melainkan karena ngantri pasien lain yang ingin menyehatkan vespanya juga.

Berada dalam satu wadah berupa bengkel vespa tentu obrolannya tak jauh jauh dari motor tua tersebut, dan tentu akan lebih gampang nyambungnya, termasuk membahas tentang event vespa yang akan segera berlangsung di Pulau Bali pada waktu itu.

Kalau tidak lupa dan salah ongkos untuk membetulkan sekalian mengganti paku rotor di motor vespa super beserta jasanya adalah sembilan puluh ribu rupiah saja.

Terbukti dipakai sampai sekarang masih aman sentosa keadaanya.


Berangkat dari rumah

Kalau tidak salah, acara resminya di mulai sejak hari jumat sampai minggu.

Banyak scooteris yang mulai berangkat sejak jauh-jauh hari sebelumnya, termasuk mereka yang naik bus, pesawat, ataupun kereta. sedangkan vespanya naik truk towing sampai acara.

Saya hanya berdua diatas satu vespa berangkat dari rumah pukul delapan malam di hari kamis.

Pertama kali isi bensin, masih di daerah Klaten full tank pertalite dengan nominal empat puluh ribu rupiah.

Tiba di minimarket Kartasura


Sekian jam berkendara, istirahatlah kita di salah satu minimarket sembari menghabiskan satu batang rokok dan beberapa tengguk air untuk melepas dahaga.

Selama perjalanan dari rumah sampai Solo, sama sekali kami tidak menjupai pengendara vespa yang satu tujuan dengan kami.

Duduk duduk sembari istirahat, tiba-tiba ada beberapa orang menyapa sembari melemparkan beberapa pertanyaan.

Ternyata setelah mengobrol, baru tahu bahwa beberapa orang tersebut juga satu tujuan dengan kita. Bedanya mereka serombongan pada naik mobil pribadi dan vespanya sudah berada di tempat tujuan diangkut truk towing.

Ketika memasuki wilayah Kota Solo, ada sebuah moment yang masih membekas di ingatan saya sampai sekarang ini.

Yaitu adalah ketika tiba-tiba di sebuah lampu merah ada beberapa bapak dan ibu Polisi berjalan ke tengah jalan.

Saya sempat kaget dan deg deg kan.

Dikira mau menilang kita, ternyata memberhentikan satu rombongan motor dan untungnya bukan ke kita.
 
Yaa masa baru beda kota tetangga sudah kena tilang kan lucu hhahahahah.

Kembali mengisi bahan bakar sebelum memasuki perbatasan Sragen dan Ngawi Jawa Timur


Sebenarnya di dalam tangki, bensin masih lumayan cukup banyak.

Tapi berhubung waktu itu sudah lumayan malam ditambah perjalanan berikutnya bakal memasuki hutan jati Ngawi, ya untuk melegakan hati tidak ada salahnya untuk mengisi kembali tangki bensin.

Tidak sampai dua puluh ribu, tangki bensin sudah terisi full.

Menepi dibawah lampu sudut pom bensin, kami kembali beristirahat sebentar sembari mendinginkan mesin vespa.

Sempat melihat satu rombongan vespa melintas dan memberikan sapaan, dan kami pun membalas sapaannya.

Eh ketika mau melanjutkan perjalanan, ada satu vespa dan satu honda supra datang menghampiri kita. 

Tiga orang dua kendaraan, berangkat dari Purworejo untuk mencapai tujuan yang sama.

Ngobrol sebentar, dan sepakat untuk jalan bareng.

Tapi ternyata cara berkendaranya beda dengan saya. Mereka memacu kendaraannya dengan kencang dan saya jalan lambat tertinggal di belakang.

Ya sudahlah nikmati saja perjalanan, sampai syukur tidak sampai ya jalani saja, waktu itu pikiran saya.

Berhenti di Nganjuk dan tertidur pulas di pom bensin sebelum Jombang


Tidak bisa dipungkiri bahwa setelah berkendara sekian jam di malam hari, cukup membuat badan lelah dan minta untuk diistirahatkan.

Entah waktu itu pukul berapa saya lupa, yang pasti melihat pom bensin tidak ada kata lain selain ingin cepat cepat merebahkan badan ini ke emperan pinggir mushola sembari memejamkan mata berharap mimpi indah.

Apa mau dikata, bisa tertidur nyenyak sekian jam saja sudah bisa disyukuri nikmatnya.

Walaupun berada di pom bensin, saya memutuskan untuk tidak isi tangki karena sebelumnya di daerah Caruban tangki bensin sudah kembali terisi.

Jombang Mojokerto


Matahari yang mulai meninggi membakar kulit dibarengi dengan aktivitas manusia memadati jalan dengan segala macam keperluan.

Karena semakin banyak asap kendaraan, membuat mata saja menjadi merah dan pedih.

Sempat mampir ke minimarket untuk membeli obat tetes mata. Syukurnya ada dan mata saya menjadi lebih mendingan berkurang rasa perihnya.

Kembali melanjutkan perjalanan menjumpai sekumpulan wanita berseragam biru, terlihat tergesa gesa karena jam waktu kerja sudah berbunyi.

Di mojokerto ini, kami hampir saja salah arah malah menuju Surabaya yang seharusnya ke Mojosari langsung ke arah Pasuruan.

Untungnya sempat bertanya dan diberit tahu oleh bapak penjaga pom.

Beruntunglah kita karena tidak harus memutar jarak yang terlalu jauh.

Berhubung batre hp kami sudah mulai habis, di pom inilah kamu numpang ngecharge sekalian istirahat kurang lebih selama tiga puluh menit.

Tiba di Pasuruan membeli makan nasi padang

Sebelumnya sempat mampir sebentar dan isitirahat di depan minimarket sembari membeli siomay untuk menganjal perut yang kosong. Kebetulan waktu itu belum kenyang, kami terus melanjutkan perjalanan.

Berhubung sedari pagi perut belum terisi dan bingung mau makan apa. Berhentilah kami di sebuah warung nasi padang tepat di pinggir jalan raya.

Sebenarnya makanannya enak. tapi entah mengapa saya tidak terlalu bernafsu untuk memakannya, begitupun dengan teman saya.

Karena nasinya tidak habis, kami pun berinisiatif untuk membungkus nasi tersebut

Dengan harga, ya kalau dibandingkan dengan rata-rata warung nasi padang di daerah Sleman, di Pasuruan ini lumayan lebih mahal.

Tapi ya sudahlah tetap harus disyukuri karena perut sudah terisi dan sudah siap untuk melanjutkan perjalannan kembali.

Mogok pertama kali masih di daerah Pasuruan Jawa Timur

Tidak berselang lama setelah melanjutkan perjalanan sehabis membeli makan, tepat di lampu merah tiba-tiba vespa mogok dan sulit untuk dihidupkan.

Menepilah kami di depan gedung yang sedang dibangun sembari berteduh dari teriknya sinar matahari di waktu itu.

Mulai di daerah sini, sudah lebih banyak kami menjumpai para pengendara vespa dengan tujuan yang sama ke arah Pulau Bali.

Ketika sedang bongkar tepong untuk mengecek kendala apa yang terjadi, tiba-tiba ada satu vespa berboncengan datang menghampiri kami.

Dengan baik hatinya mereka menolong kami sampi mesin vespa dapat menyala kembali.

Waktu itu tidak tanya namanya tapi ingat bahwa mereka berasal dari daerah Sidoarjo Jawa Timur.

Sekali lagi dari sini saya ucapkan terimakasih untuk mereka.

Semakin banyak anak vespa dengan tujuan yang sama

Entah di daerah mana, saya lupa.

Yang pasti mulai dari daerah Pasuruan lebih banyak kami temui vespa.

Mulai dari sini asyiknya berkendara dengan vespa kembali terasa semakin membara dan lebih menyenangkan.

Sampai sampai lupa bahwa persediaan oli samping sudah mulai menipis. Mau tidak mau harus beli karena itu adalah kebutuhan pokok bagi motor dua tak yang mengandalkan oli campur sebagai tambahan bahan bakarnya.

Tiba di daerah Paiton Pembangkit Listrik Tenaga Uap di Pulau Jawa

Sudah beberapa kota terlewati, tibalah kami di salah satu tempat yang cukup membuat saya terperanga menatapnya.

Bangunan besar tinggi besar dengan gemerlah lampu cahanya terlihat begitu berbeda dengan tempat di sekelilingnya.

Saya kira waktu itu, sebentar lagi sudah sampai di pelabuhan.

Ternyata saya salah. Masih lumayan jauh jarak yang harus di tempuh.

Waktu terasa berlalu dengan begitu cepatnya sore hari  menjadi semakin syahu ditemani suara knalpot vespa yang berbunyi menuju arah yang sama.

Sampailah kami di salah satu pom bensin setelah melewati PLTU Paiton yang kebetulan waktu itu pertalitenya kosong dan hanya menyisakan pertamak saja.

Setelah isi bensin dan vespa mau dinyalakan, ternyata susah hidup kembali sehingga mengharuskan saya untuk utek utek mesin lagi.

Tiba di Situbondo, langit sudah gelap

Tiba di daerah Situbondo, matahari sudah tenggelam langit pun mulai gelap.

Waktunya untuk kembali mengisi perut yang kosong dan mulai terasa kelaparan.

Satu hal yang saya tidak duga dan tidak dikira adalah bahasa di daerah Situbondo itu bukan Bahasa Jawa pada umumnya.

Saya baru tahu ketika diajak ngobrol pemilik warung makan pinggir jalan yang waktu itu saya sama sekali tidak paham dengan bahasanya. 

Akhirnya kami menggunakan bahasa indonesia, dan dari situlah kami mulai bisa mengerti maksud dari satu dan yang lainnya.

Ini dia cerita yang lumayan seram ketika melewati jalan aspal di Hutan Baluran

Banyuwangi merupakan kabupaten terakhir setelah Situbondo untuk berikutnya menyebrang ke Pulau Dewata Bali.

Setelah perut terisi, kami mulai melanjutkan perjalanan lagi.

Dan  tiba tiba lampu depan vespa mati.

Sempat berjalan beberapa kilo dengan kondisi lampu mati, hanya mengandalkan kendaraan di depan sebagai penerang jalan.

Sampai tibalah di sebuah pom bensin.

Waktu itu, teman saya menyempatkan untuk mandi dan bersih-bersih badan, sedangkan saya mencoba untuk mengganti lampu depan yang terpasang dan menggantinya menggunakan lampu cadangan yang kebetulan waktu itu bawa.

Untungnya lampu cadangan itu bisa berfungsi, sehingga tenanglah waktu itu, setidaknya ada penerangan di lampu depan.

Walaupun waktu itu saya sedang berada di pom bensin, tapi tangki tidak saya isi lagi berharap bisa isi di pom bensin depan.

Ternyata eh ternyata setelah kami melanjutkan perjalanan, sama sekali tidak dijumpai pom bensin.

Tiba setelah melewati tikungan, kok jalan semakin sepi dan lampu penerangan di pinggir jalan juga tidak ada.

Semakin lama kok jalannya semakin sepi dan samping kiri kanan hanya ada pohon saja tanpa ada bangunan di sekitarnya.

Jujur dalam hati hanya berdoa dan memohon untuk segera sampai ke tempat yang lebih terang.

Sempat khawatir kalau lampu tiba tiba mati lagi atau bensin habis.

Susah untuk membayangkan hanya berdoa tanpa berucap apalagi ngobrol. Bisa dibilang waktu itu suasana begitu mencekam bagi diri saya sendiri.

Walaupun beberapa kali ada kendaran lewat, akan tetapi gelap dan sepi lebih sering kami alami.

Puji syukur setelah memakan waktu yang terasa begitu lama, akhirnya semburat cahaya mulai terlihat menyala. Tiada kata lain selain lega dan syukur pada waktu itu.

Dan benar saja, setelah menemukan pom, bensin yang tersisa tinggal sedikit.

Disitu kita bertemu dua orang anak vespa dari semarang dan berbagi unek unek yang hampir sama dengan apa yang kita alami ketika melewati jalan di hutan baluran tersebut.

Akhirnya setelah bercerita sekian lama, kami menjadi akrab dan berangkat bareng menuju ke pelabuhan ketapang untuk membeli tiket penyebrangan ke Bali menggunakan kapal.


Silahkan baca cerita kelanjutannya masih sama di blog ini juga masih membahas cerita tentang vespa