Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Pendakian Gunung Sindoro Via Sigedang

Pendakian ini kami lakukan di tahun 2018, sudah lumayan lama hal itu terjadi dan baru sekarang ini saya mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan.

Salah satu pendakian yang tidak akan pernah saya lupakan Karena lebih banyak terdapat cerita duka susahnya dari pada cerita sukanya.

Tidak lain dan tidak bukan adalah ketika kami melakukan pendakian di salah satu gunung yang berada di Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah yaitu adalah Gunung Sindoro.

Seperti biasa sebelum melakukan pendakian, kami bersepakat terlebih dahulu untuk mengatur jadwal dan keperluan apa saja yang harus dibawa.


Rencana Sebelum Berangkat


Singkat cerita, sebelum pendakian itu terjadi, semua yang sudah direncanakan dari awal seperti tidak ada yang terlaksana sesuai jadwal dan kesepakatan. Mulai dari jam keberangkatan, Berapa orang yang ikut mau mendaki, barang dan perbekalan apa saja yang perlu dibawa, dan berbagai macam urusan yang sebenarnya simpel tapi jika tidak dipikirkan dan direncanakan secara matang akan berdampak untuk kedepannya nanti.

Kebetulan waktu itu saya berangkat dari rumah  ada 3 orang, yaitu saya sendiri dan juga kedua orang teman saya.

Berhubung sebelumnya sudah berembuk dan sudah mendapatkan kesepakatan, akhirnya Kami bertiga berangkat untuk sampai ke tempat titik kumpul, di mana disitu kami akan mulai berangkat bareng-bareng.

Mungkin benar saja namanya kebiasaan masyarakat kita yang suka tidak tepat waktu, dari yang Awaln niatnya berangkat pukul 1, akhirnya molor sampai jam 3.30 sore. Tentu itu semua karena acara saling tunggu itu tadi.

Jumlah Orang yang Lumayan Banyak


Dan di hari itu juga merupakan hari dimana Saya mempunyai barengan mendaki dalam jumlah yang cukup banyak kurang lebih ada 10 orang terdiri dari  laki-laki dan perempuan. Dan tidak semua saya kenal.

Biasanya cuma 4 orang aja udah terasa banyak. Kali ini ada sekitar 10 orang, yang tentunya punya pikiran dan pendapat masing-masing.

Bahkan sebelum melakukan perjalanan untuk sampai ke daerah kaki Gunung Sindoro, ketika itu juga kami masih berembuk mau melakukan pendakian lewat jalur sebelah mana karena di Gunung Sindoro sendiri mempunyai beberapa jalur pendakian.

Memutuskan Untuk Mendaki lewat Sigedang


Akhirnya Setelah beberapa lama bertukar pikiran, jalur sigedang yang menjadi tujuan kami pada waktu itu.

Bisa dibilang tidak ada dari rombongan kami yang pernah melewati jalur tersebut. Jadi tidak tahu Medan yang akan ditempuh itu seperti apa.

Jalur ini terletak di sisi utara Gunung Sindoro, sayangnya waktu itu Mentari sudah terbenam sehingga gelap menyelimuti malam menyebabkan pandangan mata terbatas dengan kemampuannya.

Sangat berbeda sekali antara dahulu dan sekarang, pada saat itu kondisi jalan untuk sampai ke basecamp sigedang cukup lumayan parah dan beberapa titik sedang mengalami perbaikan. Walaupun begitu sekarang kondisi jalannya sudah bagus dan menyuguhkan pemandangan indah yang akan terlihat jelas ketika hari cerah.

Singkat cerita tibalah kami di basecamp sigedang. Waktu itu sudah lumayan larut malam dan nggak tahu kenapa semua tetap memaksakan untuk melakukan pendakian di malam itu juga.

Jalur Pendakian yang Sepi


Dan kebetulan saat itu juga tidak ada barengan dari rombongan lain yang sedang ataupun mau mendaki lewat jalur tersebut. Jadi bisa dibilang jalur sigedang ini tidak seramai jalur garung

Sebelum mulai mendaki, kami diberikan nasehat tentang apa saja yang boleh atau tidak boleh dilakukan ketika melakukan pendakian, dan waktu itu dibarengi dengan cerita yang cukup teringat di kepala.

Singkat cerita pendakian pun kami Mulai lakukan. Dari basecamp untuk sampai ke pos 1, kami harus berjalan melewati jalan aspal yang lumayan menanjak yang cukup memakan waktu. Sampai tiba lah Dibatas masuk kawasan kebun teh.

Bahkan sebelum masuk kawasan kebun teh tersebut kami sempat kebingungan karena plang penunjuk arah nya tidak terlihat begitu jelas karena ukurannya yang kecil.

Kemudian ketika masuk kebun teh, juga jalurnya lumayan membingungkan dengan alasan yang sama.

Tapi syukurlah waktu itu kami bisa melewati kebun teh hingga sampailah ke batas pemisah antara gerbang masuk hutan dan perkebunan teh.

Perbekalan Minim Bahkan Tidak Mencukupi


Tentu rasa lelah waktu itu cukup membuat kami membutuhkan banyak minum untuk mencukupi rasa rasa haus karena banyak keringat yang yang keluar .

Sayangnya kami terlalu membawa sedikit perbekalan terkhusus di air minum yang tidak sesuai ketentuan dengan jumlah segitu banyak orang.

Masih di malam hari dengan cahaya senter yang seadanya sampai akhirnya tibalah kami di pos untuk bisa mendirikan tenda setelah melewati batas hutan dengan pemandangan dan dan tanah yang cukup luas untuk bisa mendirikan beberapa tenda.

Setelah tenda terbuat kemudian dibarengi makan dan minum secukupnya ya akhirnya kami pun terlelap tidur sampai matahari pagi muncul dan waktu tidur kami pun tidak lebih dari 3 jam.

Terlalu Memaksakan Untuk Sampai Ke Puncak


Mungkin waktu itu semangat untuk sampai ke puncak Gunung Sindoro terlalu menggebu-gebu dan terlalu tinggi, sehingga ketika matahari muncul mereka terlalu nafsu untuk langsung melanjutkan perjalanan ke puncak Gunung Sindoro.

Dengan perbekalan seadanya dan tanpa apa melakukan sarapan pagi terlebih dahulu cuma tersisa 2 orang yang ada di beda ya itu saya dan satu teman saya. Yang lainnya tetap keberapa lanjutkan perjalanan untuk sampai ke Puncak.

Sejujurnya Waktu itu saya sempat kesal juga Kenapa terlalu memaksakan tanpa memedulikan keadaan dan kondisi fisik dari masing-masing orang tersebut. Saya sendiri juga sempat memperingatkan untuk tidak perlu Terlalu memaksakan diri jika memang kondisi dan perbekalan tidak mencukupi, tapi ya mungkin itu tadi setiap orang punya pemikiran dan pandangannya masing-masing.

Setelah sekian lama saya menunggu di tenda akhirnya satu persatu mulai turun dengan jeda waktu yang lumayan lama dan dan Kalau tidak salah cuma ada ada 3 orang yang bisa berhasil sampai ke Puncak yang lainnya menyerah dan memutuskan untuk putar balik ke tenda.

Dan benar saja, perbekalan kami terkusus air minum waktu itu sangat menipis. Jadi cuma tersisa 1 botol air mineral yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan air kami pada waktu itu.

Tidak ada air yang tersisa lagi, otomatis Ketika nanti turun sampai ke basecamp, harus mau tidak mau untuk tidak minum sama sekali.

Perjalanan Kembali Ke Basecamp


Setelah terkumpul sebuah akhirnya kami memutuskan untuk segera turun ke basecamp.

Dan ketika itu juga Kami sempat terpisah dalam beberapa kelompok anggota dan saya termasuk orang yang berada di depan dan sampai terlebih dahulu ke basecamp.

Jujur Waktu itu saya sendiri tidak terlalu memperhatikan teman yang lain karena dari awal mendaki sudah terjadi banyak ketidakcocokan. Bisa dibilang rasa egois saya waktu itu muncul.

Dan benar saja ketika sudah sampai basecamp lebih dahulu sudah sempat minum bahkan makan, Ada rombongan lain yang mengatakan bahwa salah satu teman kami pingsan dan masih berada di jalur pendakian.

Jujur waktu itu kami kaget, dan segera melapor ke petugas basecamp sembari menggunakan motor untuk menjemput teman kami yang masih tersisa di jalur pendakian.

Untungnya cuma pingsan tidak terjadi sesuatu yang lebih parah lagi, jadi waktu itu tetap kami bersyukur.



Poin penting dari cerita ini adalah ketika mau melakukan pendakian gunung, sebaiknya persiapkan terlebih dahulu baik itu perbekalan, kondisi fisik, kondisi mental dan harus saling peduli antara satu dengan yang lain apabila terdapat banyak orang dalam kelompok pendakian.

Tidak perlu Terlalu memaksa untuk sampai ke Puncak Gunung apabila memang kondisi tidak memungkinkan daripada hanya menyusahkan orang lain nanti kedepannya. Lagipula gunung juga tetap akan tetap berada di situ tidak akan pergi ke mana-mana jadi kita bisa mengunjunginya lagi di lain waktu dengan kondisi yang lebih memungkinkan, supaya bisa dapat apa yang diinginkan